Beranda / Aceh Utara / Guru SMA Negeri 1 Tanah Jamboaye Dan Tenaga Pengajar Di Dayah Terpadu Ulumul Islam Samakurok Panton Labu Aceh Utara

Guru SMA Negeri 1 Tanah Jamboaye Dan Tenaga Pengajar Di Dayah Terpadu Ulumul Islam Samakurok Panton Labu Aceh Utara

Aceh Utara : supremasihukum.net | Mengunjungi Museum Malikussaleh: Menggugat Ingatan, Menantang Kelalaian. Oleh : Tgk Wahyu (Guru SMA Negeri 1 Tanah Jamboaye dan Tenaga Pengajar di Dayah Terpadu Ulumul Islam Samakurok Panton Labu Aceh Utara).

Mengunjungi Museum Malikussaleh di Aceh Utara seharusnya bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah tamparan halus—bahkan keras—bagi kesadaran kita yang kerap lalai terhadap akar peradaban sendiri.

Di tempat inilah jejak kejayaan Islam di Nusantara tidak hanya disimpan, tetapi dipertanyakan kembali: sejauh mana kita hari ini benar-benar memahami warisan besar itu?

Museum ini berdiri untuk mengenang Sultan Malikussaleh, pendiri Kerajaan Samudera Pasai—kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Fakta ini semestinya cukup untuk membuat siapa pun merasa bangga. Namun ironisnya, kebanggaan itu sering berhenti pada slogan, bukan pada pemahaman yang mendalam.

Di dalam museum, tersimpan naskah kuno, prasasti, dan artefak yang menjadi bukti bahwa peradaban Islam di Aceh pernah berada pada titik yang sangat maju. Ini bukan sekadar sejarah lokal, melainkan bagian penting dari peta besar peradaban dunia.

Samudera Pasai adalah simbul perdagangan, ilmu pengetahuan dan dakwah yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Pertanyaannya, apakah kita hari ini masih mewarisi semangat itu?

Mengunjungi museum ini membuka mata bahwa Islam di Nusantara tumbuh bukan dalam ruang sempit, tetapi dalam interaksi yang luas, terbuka, dan beradab. Para ulama dan sultan masa lalu tidak hanya menjaga akidah, tetapi juga membangun jaringan ilmu, ekonomi, dan diplomasi.

Mereka berpikir jauh melampaui zamannya.

Bandingkan dengan kondisi hari ini, ketika perdebatan sering kali dangkal, dan semangat keilmuan justru kerap terpinggirkan.

Museum Malikussaleh juga menyimpan pelajaran penting tentang toleransi. Aceh masa lalu bukan wilayah yang terisolasi, melainkan ruang pertemuan berbagai budaya. Perbedaan tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih kokoh.

Ini adalah pelajaran yang terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh perbedaan.

Bagi generasi muda, museum ini seharusnya menjadi ruang kesadaran, bukan sekadar kunjungan seremonial.

Mereka perlu melihat langsung bahwa leluhur mereka pernah membangun peradaban besar—bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk menumbuhkan tanggung jawab.

Sebab sejarah bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk dilanjutkan.

Pada akhirnya, Museum Malikussaleh bukan hanya tempat menyimpan masa lalu. Ia adalah cermin—yang memantulkan siapa kita hari ini, sekaligus menguji apakah kita masih layak disebut pewaris peradaban besar itu.

Jika kunjungan ke sana tidak menggugah kesadaran, maka yang hilang bukan sekadar ingatan sejarah, tetapi juga arah masa depan.

( Muhammad Nur Ismail )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *